miskin terdiri seorang ayah dan anak. Mereka hidup serba kekurangan. sudah setahun sang
anak ditinggal ibunya karena sakit dan tidak mempunyai uang untuk berobat. Sang ayah sendiri
hanya berprofesi sebagai buruh pengangkut air. Harta yg mereka miliki hanya gubuk yg mereka
tinggali, pakaian seadanya, dan dua buah ember sebagai tumpuan hidup karena mereka hidup
di daerah kurang subur.
Malang benar nasib si anak, tak lama kemudian ia ditinggal ayahnya. Kini ia hidup sebatang kara
tak punya sanak saudara. Tapi hidup harus tetap berjalan. Ia kemudian melanjutkan hidupnya
mengikuti jejak hidup ayahnya sebagai buruh pengangkut air. Tak ada pekerjaan lain yg bisa ia
lakukan karena kemampuannya sangat terbatas. Tidak bisa membaca ataupun menulis.
Dengan 2 ember sebagai warisan berharga ayahnya ia memulai pekerjaannya sebagai kuli
pengangkut air. Menjadi kuli air bukanlah pekerjaan yg gampang. Ia harus pergi menaiki bukit
karena di sanalah satu-satunya sumber mata air di daerah itu. Hujan pun sangat jarang turun.
Uang yg didapat dari pekerjaannya hanya cukup untuk makan sehari-hari kadang sehari ia
tidak makan sama sekali. Ia tidak mengeluh sedikit pun ia terima kehidupannya sebagai takdir
yg harus ia jalani.
Bertahun-tahun lamanya ia tekuni pekerjaan itu dengan sabar. salah satu embernya bocor
sehingga membuat hidupnya tambah susah. Setiap kali ia membawa air hanya tinggal 1 ember
setengah yg ia dapat. Lama-kelamaan bocornya semakin besar dan ia pun hanya bisa
mendapatkan 1 ember air setiap kali ia pergi ke bukit. Walaupun begitu ia tetap saja memakai
ember yg bocor itu tanpa ada usaha sedikit pun untyk memperbaiki atau menjual ember itu.
Ember bocor itu merasa malu dan minder dengan temannya yg sempurna fisiknya dan lebih
bermanfa'at ketimbang dirinya yg hanya bisa membebani pundak tuannya. Setiap malam ia
menangis akan kekurangan dirinya dan menyesali ketidak bergunaan dirinya. Tak henti-hentinya
ia berdo'a agar ada yg menggantikan dirinya. Do'anya akhirnya terkabulkan.
Suatu hari tuannya pergi mencari air seperti biasanya. Di tengah perjalanan ia menemukan
sebuah ember. Bentuknya masih cukup bagus dan tak ada lubang sedikit pun. Si ember
bocor merasa senang karena akhirnya ada yg menggantikannya dan ia merasa siap untuk
dibuang tuannya. Tapi yg diharapkan oleh si ember bocor tidak terjadi. Tuannya mengambil
ember itu kemudian berkeliling desa untuk mencari pemiliknya. Setelah lama mencari,
akhirnya ia mendapatkan pemilik ember itu dan memberikan ember yg bukan haknya.
Sejak kejadian itu si ember bocor tak henti-hentinya memikirkan kejadian.
Apa tuannya itu orangyg terlalu baik atau terlalu bodoh? Apakah dirinya begitu berharga
untuk dipertahankan ? Setiap malam ia berdo'a agar diberikan kemampuan untuk berbicara.
Akhirnya do'anya terkabul.
Seperti biasanya subuh-subuh tuannya harus mencari air untuk di jual ke desa. Ia mendengar suara tangisan. Tapi tak ada seorang manusia pun yg ada di sekitarnya. Setelah mencari-cari akhirnya ia meyakini suara itu berasal dari ember bocor miliknya.
Tuannya itu kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada ember bocor.
Tuannya : "Apakah suara tangis yg kudengar berasal dari kamu ?"
Ember bocor : "Ya tuanku. Aku menangis karena aku merasa tidak berguna karena hanya menjadi beban hidupmu. Keadaanku yg bocor dan tak sempurna ini hanya membuang-buang air yang
telah kau ambil susah payah. Sesungguhnya aku rela bila Tuan menggantikan aku dg ember
yg lebih baik atau membuang diriku ini. Tapi jika tuan merasa diriku ini sebagai kenangan dari
ayah tuan maka akurela hanya menjadi hiasan di rumah tuan. Tuan tak perlu memakai diriku
yg tidak berguna ini"
Tuannya tersenyum sambil menjawab:
" wahai ember kesayanganku. sesungguhnya aku memakaimu untuk kebaikan orang lain.
Apa kamu tak sadar setiap air yg kau teteskan telah menumbuhkan tumbuhan dan bunga-bunga
di sepanjang jalan yg kulewati. Aku merasa bahagia ketika melihat anak-anak bermain dengan
bunga yg kau tumbuhkan atau seseorang yg sering memetikkan bunga untuk kekasihnya.
Sungguh aku termasuk orang yg bodoh dan miskin. Tak ada ilmu yg bisa aku ajarkan dan tak ada
harta yg bisa aku bagikan. Terima kasih emberku kalau bukan karena dirimu aku tak kan bisa
berbuat kebajikan di dunia."
Mendengar perkataan tuannya ember bocor itu merasa bangga dan bahagia sekaligus terharu.
Ia tidak lagi merasa minder. setiap tuannya memakainya ia tertawa dan bernyanyi.
Waktu terus berlalu, Bunga-bunga di sepanjang jalan meninggi diringi pertambahan tumbuhan
lainnya. Desa yg tadinya tandus dan sepi menjadi ramai dikunjungi orang2 dari kota untuk melihat bunga2 indah nan langka. Puluhan tahun setelah kematian sang kuli angkut air, ditemukan
kandungan obat dari tumbuhan dan bunga tersebut. Sebuah dampak yg sangat besar dari
seorang kuli angku air dan embernya.
DI BALIK KEKURANGAN SELALU ADA KELEBIHAN.....semoga ceritanya bisa bermanfa'at
Tidak ada komentar:
Posting Komentar